Solusi Kaltara Atasi Defisit Daya Listrik

Solusi Kaltara Atasi Defisit Daya Listrik
Ilustrasi (Int)

KabarTanjungselor.com-- Tanjung Selor sebagai ibu kota Kalimantan Utara saat ini dalam masalah penanganan defisit daya listrik. Saat ini pemerintah pusat dan pemerintah daerah sudah mengambil langkah-langkah yang konkret. 

Ada beberapa excess power yang disiapkan sebagai solusi masa depan, yaitu pembangunan PLTMG. dan  PLTU

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kalimantan Utara Ferdy Manurun Tanduklangi menjelaskan, solusi jangka pendeknya bertumpu Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) yang tengah dibangun di Gunung Seriang, Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan.

Pembangkit itu mampu menghasilkan daya sebesar 3x7 Mega Watt.

Excess power kedua adalah Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di lokasi yang sama dengan kapasitas 2x7,5 Mega Watt. Keseluruh kapasitas daya dari dua pembangkit tersebut mencapai 36 Mega Watt.

"Ini cukup untuk mengatasi defisit daya di Bulungan. Saat ini beban puncak di Bulungan kurang lebih 12 MW," kata Ferdy saat menjadi narasumber 'Respons Kaltara', Selasa (26/3) di Kedai 99 Tanjung Selor.

Dua pembangkit tersebut progresnya belum 100 persen. Berdasarkan koordinasi dengan pihak PT PLN (Persero), dua unit excess power tersebut masing-masing akan selesai dikerjakan pada tanggal 23 Mei dan 7 Juni 2019.

Menurut Ferdy ditargetkan 6 bulan kedepan Kaltara akan bebas dari pemadaman listrik khususnya Bulungan. Selain di Bulungan juga dibangun PLTMG berkapasitas 10 Mega Watt di Nunukan dan 6 Mega Watt di Malinau.

Jangka menengahnya adalah pembangunan jaringan transmisi Saluran Udara Tingkat Tinggi (SUTT) 150 Kilo Volt dari Tanjung Redeb (Berau, Kalimantan Timur) ke Bulungan sebanyak 205 tower. Dari Bulungan ke Tana Tidung sebanyak 311 tower, dab Tana Tidung ke Malinau sebanyak 102 tower.

"Nanti akan sampai ke Nunukan juga. Untuk yang ke Tarakan, kami belum tahu secara detil dan pastinya" ujarnya.

Jaringan transmisi tersebut terkoneksi dengan jaringan Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Keuntungannya, ketika Kalimantan Utara kekurangan atau defisit daya, maka listrik dapat disuplai dari Kalimantan Timur.

PT PLN bisa memanfaatkan 200 Mega Watt sebagai antisipasi jika ada kerusakan atau kekurangan daya di Kalimantan Utara.

Jaringan interkoneksi melalui SUTT dimulai dari Kuaro (Paser), Kariangau (Balikpapan), Samarinda, Bontang, Sangata, Kelai, Muara Wahau, Tanjung Redeb, Tanjung Selor, hingga Siemanggaris (Nunukan).

Sedang jangka panjangnya, Pemprov Kalimantan Utara bersama pemerintah tengah mempercepat realisasi investasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Besahan di Sungai Kayan, Kabupaten Bulungan. Mega proyek tersebut akan menghasilkan daya 9.000 Mega Watt.

Konsumsi listrik jangka panjang ke depan akan banyak diserap di Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) Tanah Kuning. Ferdy mengatakan, produksi listrik secara makro hingga tahun 2.030an sudah mencapai 10.500 Mega Watt.

Selain untuk keperluan rumah tangga dan KIPI serta industri/usaha lainnya di daerah juga akan disuplai untuk Kota Baru Mandiri Tanjung Selor, kawasan budidaya tambak, pusat pemerintahan di Tanjung Selor, dan Kota Otonom Sebatik.

Berdasarkan catatan Ditjen Ketenagalistrikan Kementerian ESDM, PT PLN juga tengah melakukan pembangunan pembangkit di beberapa daerah. Semisal PLTU 2x3 di Malinau, PLTMG 2x18 Mega Watt dan PLTMG 40 Mrga Watt di Tarakan. Di Sei.Manggaris juga direncanakan pembangunan PLTG berkapasitas 2x20 Mega Watt.

Penulis : Redaksi

Editor : Redaksi